Pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian ekononomi global.
"Pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global terutama terkait penyelesaian krisis Eropa dan tingginya kebutuhan valas untuk impor," ujar Gubernur BI Darmin Nasution di Gedung BI, Jakarta, Rabu 5 September 2012.
Darmin mengatakan tekanan pelemahan nilai tukar rupiah juga merupakan imbas dari defisitnya neraca transaksi berjalan, pada triwulan II - 2012 mengalami defisit US$6,9 miliar dolar (3,1 persen dari PDB). Defisit tersebut meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (US$3,2 miliar atau 1,5 persen dari PDB)
Dari sisi transaksi modal dan finansial (TMF) mengalami kenaikan surplus yang signifikan baik dalam bentuk investasi asing langsung. Surplus neraca TMF naik dari US$2,5 miliar pada triwulan I 2012 menjadi US$5,5 miliar pada triwulan II-2012. Namun besarnya surplus TMF tidak dapat menutupi besarnya defisit neraca transaksi berjalan, sehingga keseluruhan neraca pembayaran pada triwulan II- 2012 defisit US$8 miliar.
Defisit transaksi berjalan akan berjalan diperkirakan berkurang dua persen dari PDB. Perkiraan ini didasarkan ekspektasi kondisi perekonomian global dan harga komoditas ekspor akan membaik. BI memperkirakan nilai tukar pada sisa tahun 2012 berada di kisaran Rp9.200 hingga Rp9.400 per dolar. (adi)
Sumber : VIVAnews


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !